Rabu, 23 Desember 2015

MENYELISIK SEJARAH DANAU TELUK

SEJARAH KECAMATAN “DANAU TELUK” KOTA JAMBI

A.    PENDAHULUAN
a.      Sejarah Umum Provinsi Jambi
Provinsi Jambi[1] pada mulanya berbentuk Karesidenan. Kata “karesidenan”, berasal dari Bahasa Belanda yaitu Residentie yang berarti a) tempat tinggal b) makam.[2] Karesidenan adalah sebuah pembagian administratif dalam sebuah provinsi di Hindia Belanda[3] dan kemudian Indonesia hingga tahun 1950-an dimana dibagi dalam beberapa afdeeling/ kabupaten. Jambi ditetapkan sebagai karesidenan pada tanggal 27 April 1904, setelah gugurnya Sultan Thaha Saifuddin[4] dan berakhirnya masa Kesultanan Jambi.[5] Ketika itu Belanda berhasil menguasai wilayah wilayah Kesultanan Jambi. Awalnya Karesidenan Jambi masuk ke dalam wilayah Nederlandsch Indie. Residen Jambi yang pertama, O.L Helfrich yang diangkat berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Belanda No. 20 tanggal 4 Mei 1906 dan pelantikannya dilaksanakan tanggal 2 Juli 1906.[6] Kekuasaan Belanda atas Jambi berlangsung ± 36 tahun, karena pada tanggal 9 Maret 1942 terjadi peralihan kekuasaankepada Pemerintahan Jepang. Dan pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah pada Sekutu. Tanggal 17 Agustus 1945, diproklamirkanlah Negara Republik Indonesia. Jumlah provinsi di Indonesia pada awal kemerdekaan sebanyak 8 daerah sebagaimana keputusan Sidang II Panitia Persiapan Kemerdekan Indonesia (PPKI). Sidang II PPKI ini dilaksanakan pada 19 Agustus 1945. Berikut data 8 provinsi tersebut beserta nama gubernurnya:
1.      Sumatera                   (Teuku Mohammad Hasan)
2.      Jawa Barat                 (Sutardjo Kartohadikusumo)
3.      Jawa Tengah             (R.A. PanjiSoeroso)
4.      JawaTimur                 (R.M. Suryo)
5.      Sunda Kecil                (Mr. I. GustiKetutPudja)
6.      Maluku                       (Mr. J. Latuharhary)
7.      Sulawesi                     (R. G.S.S.J. Ratulangi)
8.      Kalimantan/Borneo    (Ir. Pangeran Mohammad Noor)[7]
Pulau Sumatera pada saat proklamasi menjadi satu provinsi yaitu Provinsi Sumatera dan Medan sebagai ibukotanya, serta MR. Teuku Muhammad Hasan[8] ditunjuk memegang jabatan gubernur.
Pada tanggal 18 April 1946, Komite Nasional Indonesia Sumatera bersidang di Bukit tinggi dan memutuskan Provinsi Sumatera terdiri dari tiga sub provinsi, yaitu Sub Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Sub Provinsi Sumatera Tengah mencakup Karesidenan Sumatera Barat, Riau dan Jambi.[9] Tarik menarik Karesidenan Jambi untuk masuk ke Sumatera Selatan atau Sumatera Tengah, ternyata cukup alot dan akhirnya ditetapkan dengan pemungutan suara pada Sidang KNI Sumatera tersebut sehingga Karesidenan Jambi masuk ke Sumatera Tengah. Sub-sub provinsi dari Provinsi Sumatera ini kemudian dengan Undang-Undang No. 10 tahun 1948 ditetapkan sebagai provinsi. Dengan Undang-Undang No. 22 tahun 1948 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Karesidenan Jambi saat itu, terdiri dari dua kabupaten[10] dan satu Kota Praja Jambi.
Masa terus berjalan, banyak pemuka masyarakat yang ingin Karesidenan Jambi menjadi bagian Sumatera Selatan dan di bagian lain ingin tetap bahkan ada yang ingin berdiri sendiri. Sementara, Kerinci kembali dikehendaki masuk Karesidenan Jambi. Hal ini karena sejak tanggal 1 Juni 1922, Kerinci yang tadinya bagian dari Kesultanan Jambi dimasukkan ke Karesidenan Sumatera Barat.Tepatnya menjadi bagian dari Kabupaten Pesisir Selatan dan Kerinci (PSK). Tuntutan Karesidenan Jambi menjadi Daerah Tingkat I Provinsi diangkat dalam Pernyataan Bersama antara Himpunan Pemuda Merangin Batanghari (HP.MERBAHARI) denganFront Pemuda Jambi (FROPEJA) tanggal 10 April 1954 yang diserahkan langsung kepada Muhammad Hatta, Wakil Presiden RI di Bangko, yang ketika itu berkunjung kesana.Penduduk Jambi saat itu tercatat kurang lebih 500.000 jiwa (tidak termasuk Kerinci). Keinginan tersebut diwujudkan kembali dalam Kongres Pemuda Se-Daerah Jambi30 April-3 Mei 1954 dengan mengutus tiga orang delegasi yaitu Rd. Abdullah, AT.Hanafiah dan H. Said serta seorang penasehat delegasi yaitu Bapak Syamsu Bahrun menghadap Mendagri Prof. DR.MR. Hazairin. Berbagai kebulatan tekad setelah itubermunculan baik oleh gabungan parpol, Dewan Pemerintahan Marga, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Merangin, Batanghari. Puncaknya, pada Kongres Rakyat Jambi 14-18 Juni 1955 di gedung Bioskop Murni, terbentuklah wadah perjuangan Rakyat Jambi bernama Badan Kongres Rakyat Djambi (BKRD) untuk mengupayakan dan memperjuangkan Jambi menjadi Daerah Otonomi Tingkat I Provinsi Jambi.
Pada Kongres Pemuda Se-Daerah Jambi tanggal 2-5 Januari 1957, mendesak BKRD menyatakan Karesidenan Jambi secara de facto[11] menjadi provinsi selambat-lambatnya tanggal 9 Januari 1957. Sidang Pleno BKRD tanggal 6 Januari 1957 pukul 02.00, dengan resmi menetapkan Karesidenan Jambi menjadi Daerah Otonomi Tingkat I Provinsi yang berhubungan langsung dengan pemerintah pusat dan keluar dari Provinsi Sumatera Tengah. Dewan Banteng selaku penguasa pemerintah Provinsi Sumatera Tengah yang telah mengambil alih Pemerintahan Provinsi Sumatera Tengah dari Gubernur Ruslan Mulyohardjo pada tanggal 9 Januari 1957, selanjutnya menyetujui keputusan BKRD. Pada tanggal 8 Februari 1957, Ketua Dewan Banteng Letkol Ahmad Husein melantik Residen Djamin gr. Datuk Bagindo sebagai Acting Gubernur dan H.Hanafi sebagai Wakil Acting Gubernur Provinsi Djambi, dengan staf 11 orang yaituNuhan, Rd. Hasan Amin, M. Adnan Kasim, H.A. Manap, Salim, Syamsu Bahrun, Kms.H.A.Somad, Rd. Suhur, Manan, Imron Nungcik dan Abd Umar yang dikukuhkan denganSK No. 009/KD/U/L KPTS tertanggal 8 Februari 1957 dan sekaligus meresmikan berdirinya Provinsi Jambi di halaman rumah Residen Jambi (kini Gubernuran Jambi).Pada tanggal 9 Agustus 1957, Presiden RI Soekarno akhirnya menandatangani UU Darurat No. 19 tahun 1957 tentang Pembentukan Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Jambi di Denpasar, Bali. Dengan UU No. 61 tahun 1958 tanggal 25 Juli 1958, UU Darurat No. 19 tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah Sumatera Tingkat I Sumatera Barat, Djambi dan Riau (UU tahun 1957 No. 75) ditetapkan sebagai undang-undang. Dalam UU No. 61 tahun 1958 disebutkan pada pasal 1 hurup b, bahwa daerah Swatantra Tingkat I Jambi, wilayahnya mencakup wilayah daerah Swatantra Tingkat II Batanghari, Merangin, dan Kota Praja Jambi serta Kecamatan-Kecamatan Kerinci Hulu, Tengah dan Hilir. Kelanjutan UU No. 61 tahun 1958 tersebut pada tanggal 19 Desember 1958, Mendagri Sanoesi Hardjadinata mengangkat dan menetapkan Djamin gr. Datuk Bagindo Residen Jambi sebagai Dienst Doend DD Gubernur (residen yang ditugaskan sebagai Gubernur Provinsi Jambi dengan SK Nomor UP/5/8/4). Kemudian, pejabat gubernur pada tanggal 30 Desember 1958 meresmikan berdirinya Provinsi Jambi atas nama Mendagri di Gedung NasionalJambi (sekarang gedung BKOW). Kendati secara de jure Provinsi Jambi ditetapkan dengan UU Darurat 1957 dan kemudian UU No. 61 tahun 1958, tetapi dengan pertimbangan sejarah asal-usul pembentukannya oleh masyarakat Jambi melalui BKRD, maka tanggal Keputusan BKRD 6 Januari 1957 ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Jambi. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Djambi Nomor 1tahun 1970 tanggal 7 Juni 1970 tentang Hari Lahir Provinsi Djambi.[12]
Adapun para Gubernur Jambi dari tahun 1957-sekarang adalah:
1.    M. Joesoef Singedekane                   (1957-1967)
2.    H. Abdul Manap                                 (Pejabat Gubernur 1967-1968)
3.    R.M. Noer Atmadibrata                      (1968-1974)
4.    Djamaluddin Tambunan, SH              (1974-1979)
5.    Edy Sabara                                        (Pejabat Gubernur 1979)
6.    Masjchun Sofwan, SH                        (1979-1989)
Drs. H. Abdurrahman Sayoeti            (Wakil Gubernur)
7.    Drs. H. Abdurrahman Sayoeti             (1989-1999),
Musa                                                   (Wakil Gubernur)
Drs. Hasip Kalimudin Syam                (Wakil Gubernur)
8.     DRS. H. Zulkifli Nurdin, MBA              (1999-2005)
Uteng Suryadiatna                              (Wakil Gubernur)
Drs. Hasip Kalimudin Syam                (Wakil Gubernur)
9.     DR.Ir. H. Sudarsono H, SH, MA         (Pejabat Gubernur 2005)
10.  Drs. H. Zulkifli Nurdin, MBA                (2005-2010)
Drs. H. Antony Zeidra Abidin              (Wakil Gubernur 2005-2010)
11.  H. Hasan Basri Agus, MA                   (2010-sekarang)
H. Fachrori Umar                                (Wakil Gubernur)[13]

b.      Sejarah Umum Kota Jambi
Kota Jambi[14] sebagai pemerintah daerah otonom dibentuk pada tanggal 17 Mei 1946 berdasarkan ketetapan Gubernur No. 103 Tahun 1946. Setelah itu ditingkatkan dan diperkuat dengan undang-undang No. 09 Tahun 1956 dan dinyatakan sebagai daerah otonom kota besar dalam lingkungan Provinsi Sumatera Tengah.[15] Kemudian Kota Jambi resmi menjadi ibukota Provinsi Jambi pada tanggal 6 Januari1957 berdasarkan Undang-undang nomor 61 tahun 1958.[16]
Berdasarkan Undang-undang nomor 6 tahun 1986, luas wilayah administratif pemerintah kota Jambi adalah ± 205.38 km², secara geomorfologis kota ini terletak di bagian barat cekungan Sumatera bagian selatan yang disebut sub-cekungan Jambi, yang merupakan dataran rendah di Sumatera bagian timur.Dari topografinya, kota Jambi relatif datar dengan ketinggian 0-60 m di atas permukaan laut. Bagian bergelombang terdapat di utara dan selatan kota, sedangkan daerah rawa terdapat di sekitar aliran Batanghari, yang merupakan sungai terpanjang di pulau Sumatera dengan panjang keseluruhan lebih kurang 1.700 km (11 km yang berada di wilayah kota Jambi dengan lebar sungai ± 500 m), sungai ini berhulu pada Danau Diatas di provinsi Sumatera Barat dan bermuara di pesisir timur Sumatera pada kawasan selat Berhala.Kota Jambi beriklim tropis dengan suhu rata–rata minimum berkisar antara 22,1-23,3 °C dan suhu maksimum antara 30,8-32,6 °C, dengan kelembaban udara berkisar antara 82-87%. Sementara curah hujan terjadi sepanjang tahun sebesar 2.296,1 mm/tahun (rata-rata 191,34 mm/bulan) dengan musim penghujan terjadi antara Oktober-Maret dengan rata-rata 20 hari hujan/bulan, sedangkan musin kemarau terjadi antara April-September dengan rata-rata 16 hari hujan/bulan.[17]
Kota Jambi memilik 8 kecamatan yaitu: 1) Danau Teluk 2) Pelayangan 3) Pasar Jambi 4) Telanaipura 5) Jambi Selatan 6) Jambi Timur 7) Jelutung 8) Kota Baru.Adapun Walikota Jambi dari tahun 1946 sampai sekarang, ialah:
1.      Makalam                                            (1946-1948)
2.      Muhammad Kamil                             (1948-1950)
3.      Rd. Sudarsono                                   (1950-1966)
4.      Drs. Hasan Basri Durin                      (1966-1968)
5.      Drs. Z. Muchtar. DM                          (1968-1972)
6.      H. Zainur Haviz, BA                           (1972-1983)
7.      Drs. Azhari. DS                                  (1983-1993)[18]
8.      Arifin Manaf                                        (1993-2008)
9.      dr. Bambang Priyanto                        (2008-2013)
Sum Indra                                            (Wakil Walikota)
10.  Sy. Fasha                                            (2013-sekarang)
Abdullah Sani                                      (Wakil Walikota)



B.   PEMBAHASAN
           a.    Sejarah Kecamatan Danau Teluk
Danau Teluk adalah suatu kecamatan yang cukup tua, dahulunya masih berbentuk kawedanan[19] yang dipimpin oleh Datuk Anang Bahri sekitarantahun 1948, dengan pusat kawedanan di kawasan pasar Olak Kemang. Seiring waktu berlalu, daerah tersebut mulai berkembang, sehingga dibentuklah Kecamatan Danau Teluk yang dahulunya menyatu dengan Kecamatan Pelayangan dan Telanaipura. Pada sekitar tahun 1967 akhirnya terpisah dan menjadi kecamatan induk dengan camat pertama yaitu Kms. Muhammad Saman.[20]
Secara bahasa “danau” berarti genangan air yang amat luas, dikelilingi daratan; dan “teluk” berarti bagian laut yang menjorok ke darat.[21] Sehingga dapat dipahami mengapa daerah ini dinamakan Danau Teluk karena daerah tersebut merupakan genangan air yang luas dan juga merupakan bagian dari sungai batang hari karena jika ditelusuri maka keduanya akan terhubung. Inilah sebabnya mengapa daerah ini disebut Danau Teluk.Salah satu keunikan Kecamatan Danau Teluk karena di wilayah Kota Jambi hanya terdapat dua danau (tergolong luas) yang ada sampai sekarang, yaitu 1) Danau Teluk dan 2) Danau Sipin (Kecamatan Telanai Pura) dan bentuknya yang bila dilihat dari atas atau menggunaka peta tampak seperti ikan mas.
Keunikan lainnya di tengah-tengah Danau Teluk terdapat suatu pulau yang biasa disebut dengan Pulau Pabe (ada pula yang menyebutnya Pulau Babe). Menurut keterangan sejarah, dahulu pulau tersebut dijadikan pusat pengendalian dan pengawasan administrasi perdagangan yang dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan ekonomi khususnya bidang perniagaan. Tempat tersebut pada mulanya disebut dengan “Kepabean” namun saat ini lebih dikenal dengan nama Pulau Pabe.[22]
Bagian dari Kecamatan Danau Teluk terdapatlah 5 kelurahan yang juga mempunyai sejarah tersendiri, yaitu Kelurahan Olak Kemang[23], Kelurahan Tanjung Pasir[24], Kelurahan Ulu Gedong[25], Kelurahan Tanjung Raden[26] dan Kelurahan Pasir Panjang[27].
Diantara 5 kampung/kelurahan yang bernaung di wilayah Kecamatan Danau Teluk ada 2 kelurahan yang termasuk kedalam wilayah “Pacinan”[28] yaitu Olak Kemang dan Ulu Gedong.
Danau Teluk adalah salah satu dari 621 danau yang berukuran kecil yang tersebar diseluruh Indonesia. Sebagian besar danau-danau tersebut memiliki panorama geografis karakteristik dan keunikan tersendiriPotensi lainnya di wilayah Kecamatan Danau Teluk ialah adanya keberadaan tempat peninggalan sejarah, budaya religi, rumah tua dan kerajinan khas Jambi yang terdapat di berbagai tempat di wilayah Danau Teluk. Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah kekayaan khasanah budaya dan warisan kultural (budaya) yang ada disekitar Danau Teluk secara menyeluruh yaitu potensi unggulan di wilayah ini adalah terdapat kerambah ikan nila dan patin bahkan kerajinan kerupuk dan Batik Jambi. Di lain sisi, perjalanan menuju Danau Teluk ini sendiri menawarkan pengalaman yang sangat menarik dimana jarak tempuh yang relatif dekat dari Kota Jambi yaitu dengan perjalanan + 20 Km.
Adapun camat Danau Teluk dari awal mula sampai sekarang adalah:
           1.      Kms. M. Saman                                  (1967-1970)
           2.      H. Syamsuddin Bin Rasyid                 (1970-1972)
           3.      Drs. Aman Madjid                               (1972-1982)
           4.      Muh. Aripin AS, BA                             (1982-1984)
           5.      Drs. Damsir Nasir                               (1984-1984)
           6.      Drs. Kms. Sulaiman, HS                     (1984-1987)
           7.      Johan Hamid, BA                               (1987-1990)
           8.      Drs. Heri Mujono                                (1990-1993)
           9.      Drs. A. Latief                                       (1993-1995)
           10.  Drs. A. Lutfi                                         (1995-1997)
           11.  Drs. Abi Thalib                                     (1997-1998)
           12.  Drs. Niswan                                         (1998-2000)
           13.  Drs. Ridwan                                         (2000-2004)
           14.  Drs. Subhi, S.Sos                                 (2004-2004)
           15.  M.Hefni, AS, SE                                   (2004-2009)
           16.  Hj. Rts. Maryani, SE                             (2009-2011)
           17.  Drs.Raden Jufri                                    (2011-sekarang)[29]

           b.      Sejarah Keagamaan, Pendidikan dan Kebudayaan
Tak bisa dipungkiri bahwa mengenai sejarah keagamaan, pendidikan dan kebudayaan di Seberang Kota Jambi umumnya dan Kecamatan Danau Teluk khususnya, tidak terlepas dari sejarah ke-Islam-an dan ke-melayu-an.
Hal ini bermula ketika fatwa seorang ulama penasehat kesulthanan Turki kepada Sulthan Turki untuk menemukan sebuah negeri yang bernama Pasai karena negeri tersebut akan banyak melahirkan waliullah. Kemudian Sulthan Turki mempersiapkan tiga unit kapal layar yang setiap kapal layar membawa ulama Turki menuju Samudera Pasai. Dalam perjalanan yang diperkirakan di berada di kawasan sebelum Selat Malaka, ketiga kapal layar tersebut terpisah. Satu kapal layar sampai di Pasai Aceh, satu kapal sampai di Demak dan satu kapal lagi terdampar di ujung pantai timur Sumatera atau Ujung Jabung tempat kerajaan Melayu Jambi pada tahun 1120 H (abad 15 M) yang salah satu ulama di dalamnya adalah Ahmad Ilyas[30]/Ahmad Salim/Ahmad Barus II. Kemudian beliau bertemu dengan Puteri Selaras Pinang Masak yang berakhir dengan pernikahan antara keduanya dan Ahmad Ilyas mendapat gelar Datuk Paduko Berhalo.[31]
Gelar kerajaan tersebut diberikan karena pada masa itu Ahmad Ilyas di kerajaan Melayu Jambi menjadi patronase bagi penguasa lokal Puteri Selaras Pinang Masak dalam menyebarkan ajaran agama Islam yang diawali dengan tindakan pemusnahan atau penghancuran Patung Berhala yang terdapat di Tanah Putus Ujung Jabung atau dikenal dengan Pulau Berhala sebagai tempat pemujaan bagi penganut agama Hindu. Pulau berhala ini dapat dikatakan tenpat awal bertapaknya kerajaan Melayu Islam di Jambi.[32]
Pada tahun 1138 H (abad 15 M), Datuk Paduko Berhalo mendatangkan ulama dari Hadhra Maut Yaman dari ahlul Bait Rasulullah yang bernama Sayid Husin bin Ahmad Baraqbah[33]. Beliau datang bersama anaknya yang bernama said Qosim dan menyebarkan ajaran agama Islam selama 35 tahun dan bertempat tinggal di Kampung Arab Melayu. Banyak masyarakat yang berguru dengannya salah satunya yaitu Muhammad Yusuf bin Muhammad Chatib. Setelah Said Husin wafat Muhammad Yusuf yang meneruskan penyebaran agama Islam di Jambi. Salah satu muridnya adalah anaknya sendiri Abdul Madjid. Setelah Muhammad Yusuf wafat maka Abdul Majid pula yang menyebarkan ajaran Islam, diantara beberapa muridnya adalah:
1.      Ibrahim                                  (anak Abdul Majid Jambi)
2.      Sulthan Thaha Saifuddin       (sebelum menjadi sulthan)
3.      Abdullah Affandi                    (Kampung Tengah)
4.      Abdul Shomad                       (Tanjung Pasir)
5.      Abdusshomad                        (Kampung Tengah)
6.      Hasan Anang                          (Ulu Gedong)
7.      Datuk Sin Thay                       (Olak Kemang)
8.      Burhan Nurdin                        (Kampung Tengah)
Berawal dari sini pula pendidikan ke-Islaman di wilayah Kecamatan Danau Teluk dan Pelayangan mulai meningkat dan lebih berkembang. Diantara buktinya ialah berdirinya 4 Madrasah tertua (1915 M) di Provinsi Jambi, yaitu:
1.      Madrasah Nurul Islam di Tanjung Pasir
2.      Madrasah Nurul Iman di Ulu Gedong
3.      Madrasah Sa’adatuddarein di Tahtul Yaman
4.      Madrasah Al-Jauharein di Tanjung Johor
Adapun diantara pengurus madrasah-madrasah tersebut adalah:
1.      H. Abdus Somad bin H. Ibrahim Hof  (Penghulu Jambi)
2.      Ibrahim bin Abdul Majid                      (Kampung Tengah)
3.      Ahmad bin Abd. Syukur                      (Tahtul Yaman)
4.      Usman bin H. Ali                                 (Tanjung Johor)
5.      Kms. H. M. Soleh bin Kms. Yasi n       (Tanjung Pasir)
6.      Sayid Alwi bin Muhammad bin Syahab Tanjung Pinang Jambi[34]
Setelah berkembang pesat, maka didiirikan pula satu Madrasah lagi yang terletak ditengah-tengah Madrasah Nurul Islam dan Nurul Iman yaitu Madrasah As’ad yang didirikan oleh KH. Abdul Qodir Ibrahim[35] pada tahun 1951 M.[36] Hal ini menambah catatan sejarah bahwa Kecamatan Danau Teluk dan Pelayangan (Seberang Kota Jambi/SEKOJA) memang kental dengan dunia ke-Islaman dan kesantrian.
Dari uraian tentang sejarah ke-melayu-an dan ke-Islam-an di atas dapatlah dipahami mengapa sampai saat ini di Kecamatan Danau Teluk dan Pelayangan sangat identik dengan kebudayaan Melayu Islam. Sehingga masih berbekas dan memegang erat tradisi melayu[37].Bisa dilihat dari sisi gaya masyarakat Kecamatan Danau Teluk berbahasa, berpakaian, adat istiadat, dsb.

           c.     Letak Geografis dan Kependudukan
Kecamatan Danau Teluk merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah Seberang Kota Jambi (SEKOJA) dengan luas wilayah 15.70 Km atau 7,64 persen dari luas keseluruhan Kota Jambi. Daerah perbatasannya yaitu:
-          Disebelah timur, berbatasan dengan Kecamatan Pelayangan,
-          Disebelah utara dan barat,berbatasan dengan Kabupaten Muaro Jambi,
-          Disebelah selatanberbatasan dengan Kecamatan Telanaipura.
Ketinggian daerah ini dari permukaan laut berkisaran 0-10 meter sehingga daerah ini merupakan daerah rendah yang hampir setiap tahun mengalami kebanjiran.
Dari masa awal berdirinya Kecamatan Danau Teluk tentunya telah banyak terjadi peningkatan populasi masyarakat, hal ini berdasarkan sensus penduduk tahun 2012 Kota Jambi angka agregat perkecamatan jumlah total 13.821 Jiwa dimana jumlah laki-laki 6.764 jiwa dan perempuan 7.057 jiwa dengan sex ratio sebesar 293  artinya penduduk perempuan dua persen lebih banyak dari laki-laki  dengan laju pertumbuhan penduduk selama 13 tahun 2000-2013 sebesar 5, 28 persen atau dengan kata lain Kecamatan Danau Teluk menduduki posisi kedua yang terkecil pertumbuhan penduduk setelah Kecamatan Pasar Jambi.
Dari segi kepadatan penduduk Kecamatan Danau Teluk pada tahun 2014 sejumlah  1.136 jiwa perkilo meter. Jumlah rumah tangga di Kecamatan Danau Teluk sebanyak  5.041  KK dengan rata-rata anggota rumah tangga 4  orang per Kepala Keluarga.[38]

            d.      Tempat-tempat Wisata Religi
Ada beberapa tempat bersejarah sekaligus tempat wisata religi yang terdapat di Kecamatan Danau Teluk, diantaranya:
1.  Rumah Batu[39](Olak Kemang) yang dibangun atas inisiatif Said Idrus bin Said Hasan Al-Jufri karena beliau sering dikunjungi oleh pihak mertua yaitu Sultan Nazaruddin[40] dan pihak besan yaitu Sulthan Thaha Saifuddin[41]sehingga rumahnya tidak memungkinkan menampung orang banyak.
2.  Masjid Al-Ihsaniyah (Olak Kemang), lebih dikenal dengan nama Masjid Batu[42] yang juga dibangun pada era Said Idrus bin Said Hasan Al-Jufri.
3.   Makam Said Idrus bin Said Hasan Al-Jufri dan anaknya Said Alwi, Said Muhammad dan Syarifah Hazra (Olak Kemang) terletak pada samping Masjid Batu.
4.  Madrasah Nurul Islam (Tanjung Pasir), tetapi sekarang tidak lagi melaksanakan program belajar mengajar (fakum) kepesantrenan, namun gedungnya digunakan untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK).
5.    Madrasah Nurul Iman (Ulu Gedong) yang masih aktif dan memulai membangkitkan lagi semangat kesantrian dengan menerima santri perempuan yang disebut dengan istilah santriwati.
6.   Pondok Pesantren As’ad (Olak Kemang) yang pada masa saat ini masih aktif dan muridnya yang semakin banyakserta bangunannya yang semakin berkembang. Sehingga direncanakan oleh pihak terkait akan mendirikan pula Perguruan Tinggi Agama Islam yang diberi nama Ma’had Ali Pondok Pesantren As’ad Jambi yang terletak di RT. 10 Kelurahan Olak Kemang.

            e.      Ciri Khas Budaya dan Kerajinan
Ada beberapa ciri khas dari Kecamatan Danau Teluk umumnya wilayah  Seberang Kota Jambi yang masih terjaga dari zaman dahulu dan dapat kita temukan saat ini, diantaranya:
1.   Alat transportasi air yang biasa digunakan untuk menyeberang sungai batang hari dari olak kemang/ulu gedong ke wilayah Pasar Jambi yang disebut “Ketek”.
2. Perempuan yang menutup seluruh tubuhnya kecuali kedua mata dengan  menggunakan dua kain yang disebut “kain duo” atau “tudung lingkup”.
3.  Tradisi hantaran pernikahan yang masih menggunakan tradisi adat Melayu Jambi seperti “seloko-seloko adat” dan “pantun-pantun melayu”.
4. Tradisi makan bersama dengan wadah yang disebut “talam/nampan” pada kegiatan-kegiatan masyarakat seperti acara pernikahan, walimah, sedekah arwah, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dsb.
5. Masakan-masakan khas yang berbahan dari ikan sungai dan danau seperti Tempoyak, Pindang Palapa, Kerutub, Bekasam, Rusip, dll serta kue-kue khas seperti Pedamaran, Na’am, Gomak,Klepon, Kasuwi, dll.
6. Istilah-istilah melayu Jambi yang masih sering terdengar walaupun sudah memasuki zaman modern. Seperti kata a) bekerobong yang bermaksud menutupi seluruh tubuh dengan menggunakan kain, b) nyelemar/nadir yang bermaksud perbuatan yang tak lazim dilakukan, c) Teseruhup yang bermaksud peristiwa apabila seseorang terjatuh dan terperosok ke benda/tempat lain. d) Molok yang bermaksud makan e) Gayu selamat yang bermaksud ungkapan untuk larangan jangan melakukan sesuatu perbuatan, dll.
7. Permainan tradisional masyarakat yang masih ada dimainkan oleh anak-anak seperti permainan ladang, kengkek, sembunyi pancit, tempong kaleng dll.
8.  Pengrajin Batik Jambi yang masih mudah untuk ditemukan karena sudah turun temurun dari generasi ke generasi.
9.    Pengrajin Benang Sulam Mas, tetapi jumlahnya sangat sedikit.
10. Pengrajin Kerupuk Ikan, namun jumlahnya tidak begitu banyak.


 C.      PENUTUP
a.      Kesimpulan
Dari uraian diatas, penulis merumuskan beberapa kesimpulan:
1. Pada tahun 1967 Kecamatan Danau Teluk resmi berpisah dari Kecamatan Pelayangan dan Telanaipura yang sebelumnya bergabung dalam bentuk satu “kawedanan”. Camat pertamanya yaitu Kms. Muhammad Saman.Kecamatan Danau Teluk menaungi 5 kelurahan yang juga mempunyai sejarah tersendiri, yaitu Kelurahan Olak Kemang, Kelurahan Tanjung Pasir, Kelurahan Ulu Gedong, Kelurahan Tanjung Raden dan Kelurahan Pasir Panjang.
2.  Secara bahasa “danau”berarti genangan air yang amat luas, dikelilingi daratan; dan “teluk” berarti bagian laut yang menjorok ke darat. Sehingga dapat dipahami mengapa daerah ini dinamakan Danau Teluk karena daerah tersebut merupakan genangan air yang luas dan juga merupakan bagian dari sungai batang hari karena jika ditelusuri maka keduanya akan terhubung. Keunikan lainnya ditengah-tengah Danau teluk terdapat pulau yang disebut Pulau Pabe.
3.  Keagamaan, Pendidikan dan Kebudayaan di Kecamatan Danau Teluk masih memegang erat tradisi ke-Islam-an dan ke-melayu-an yang sangat keterkaitan.

b.      Rekomendasi
Setelah mengetahui sekilas sejarah Provinsi Jambi, Kota Jambi dan khususnya Kecamatan Danau Teluk penulis merekomendasikan kepada para pembaca, yaitu diharapkan:
1. Memahami dengan baik tentang sejarah geografis, tradisi dan budayanya sehingga selalu dilestarikan hingga akhir zaman.
2. Melakukan penelitian lebih dalam tentang sejarah Danau Teluk baik melalui sumber-sumber buku maupun informan yang lebih mengetahui, karena penulis mengakui masih banyak hal-hal yang masih perlu dicari kebenaran dari karya ilmiah ini.
3.  Jangan pernah melupakan atau mengeyampingkan sejarah, sebab tanpa sejarah maka tidak ada istilah masa lalu dan dengan sejarah pula kita bisa belajar untuk menempuh masa depan yang lebih baik.

c.       Penutup
Demikianlah, karya ilmiah sejarah kecamatan “Danau Teluk” Kota Jambi ditulis dalam rangka memberikan pemahaman kepada para pembaca. Semoga bermanfaat dan dapat dikembangkan menjadi lebih sempurna.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Manaqib Syekh Abdul Qodir bin Syekh Ibrahim Al-Jambi,  diperbanyak oleh Yayasan Perguruan As’ad Jambi Tahun 2013.

-----------, Sejarah Terbentuknya FKM-SEKO, diperbanyak oleh Panitia MUBES FKM-JKS Tahun 2007.

Basri, H. Hasan Basri, Pejuang Ulama Ulama Pejuang Negeri Melayu Jambi, Jambi: Pusat Kajian Pengembangan Sejarah dan Budaya Jambi, 2012.

Noor, H. Junaidi T, Mencari Jejak Sangkala; MengirikPernik-pernikSejarah Jambi, Jambi: Pusat Kajian Pengembangan Sejarah dan Budaya Jambi, 2013.

Al-Machdor, Said Salim bin Said Abu Bakar, Kisah Sejarah Pangeran Wiro Kusumo, tidak diterbitkan.

Sejarah Berdirinya Provinsi Jambi, file dapat di download di link http://jambi.kemenag.go.id/file/dokumen/SejarahBerdirinyaProvinsiJambi.pdf

Kamus Bahasa Belanda – Indonesia Versi Online

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Versi Online

http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Jambidiakses pada tanggal 23 Desember 2014

http://id.wikipedia.org/wiki/Teuku_Muhammad_Hasan diakses pada tanggal 23 Desember 2014.





[1] Mengenai asal muasal nama Jambi ada beberapa persepsi: Pertama;  berasal dari kata ‘Jambe’ dalam bahasa Sansekerta yang berarti ‘pohon pinang’. Sebab kemungkinan besar saat “Tanah Pilih” dijadikan tapak pembangunan kerajaan yang baru, pepohonan pinang banyak tumbuh disepanjang aliran sungai Batanghari, sehingga nama itu yang dipilih oleh Orang Kayo Hitam.Kedua; berasal dari bahasa Arab yang ditulis dalam tulisan Arab جَنَبَJanaba” yang bermakna “sisi/samping”. Berpedoman pada buku sejarah De Oudste Geschiedenis van de Archipel bahwa Kerajaan Melayu Jambi dari abad ke 7 s.d. abad ke 13 merupakan bandar atau pelabuhan dagang yang ramai. Disini berlabuh kapal-kapal dari berbagai bangsa, seperti: Portugis, India, Mesir, Cina, Arab, dan Eropa lainnya. Berkenaan dengan itu, sebuah legenda yang ditulis oleh Chaniago menceritakan bahwa sebelum Kerajaan Melayu jatuh ke dalam pengaruh Hindu, seorang puteri Melayu bernama Puteri Dewani berlayar bersama suaminya dengan kapal niaga Mesir ke Arab, dan tidak kembali. Pada waktu lain, seorang putri Melayu lain bernama Ratna Wali bersama suaminya berlayar ke Negeri Arab, dan dari sana merantau ke Ruhum Jani dengan kapal niaga Arab. Kedua peristiwa dalam legenda itu menunjukkan adanya hubungan antara orang Arab dan Mesir dengan Melayu. Mereka sudah menjalin hubungan komunikasi dan interaksi secara akrab.Kondisi tersebut melahirkan interpretasi bahwa nama Jambi bukan tidak mungkin berasal dari ungkapan-ungkapan orang Arab atau Mesir yang berkali-kali ke pelabuhan Melayu ini. Orang Arab atau Mesir memberikan julukan kepada rakyat Melayu pada masa itu sebagai ”Jambi”, ditulis dengan aksara Arab yang secara harfiah berarti ’sisi’ atau ’samping’, secara kinayah (figuratif) bermakna “tetangga” atau “sahabat akrab”. Adapun tulisan Jambi awal mulanya berdialek bahasa kuno yaitu “Djambi”. Analisis lebih rinci dapat dibaca pada karya Junaidi T. Noor, Mencari Jejak Sangkala; Mengirik Pernik-pernik Sejarah Jambi, (Jambi: Pusat Kajian Pengembangan Sejarah dan Budaya Jambi, 2013), hal. 21-26.
[2] Kamus Bahasa Belanda - Indonesia versi Online atau bisa dilihat dengan menggunakan Google Translate.
[3] Ketika masa penjajahan Belanda, Indonesia dikenal dengan nama Hindia Belanda.
[4] Sulthan Thaha adalah putra Sulthan Muhammad Fachruddin yang bila dititi ke atas silsilahnya bermoyangkan Rang Kayo Hitam. Nama kecilnya ialah Raden Thaha Adiningrat. Gelar Saifuddin diberikan oleh Sulthan Aceh karena ketekunan dan kemampuannya menyerap ilmu agama. Beliau lahir tahun 1816 M di lingkungan Istana Tanah Pilih Kampung Gedang, Kerajaan Jambi. Keterangan lebih lengkap dapat di baca pada karya Junaidi T. Noor, Op.cit., hal. 126-132.
[5] Berdasarkan sejarah dari persepsi yang berbeda bahwa sultan terakhir Jambi adalah Said Idrus bin Said Hasan al-Jufri dan mendapatkan gelar “Pangeran Wiro Kusumo” yang diberikan oleh Sulthan Ahmad Nazaruddin serta berkuasa disebagian daerah Jambi, tiga rumah yang dibangunnya terletak di kampung Pacinan Olak Kemang yaitu Rumah Asal, Rumah Tengah dan Rumah Batu. Beliau wafat tahun 1910 M, dimakamkan di samping Masjid al-Ikhsaniyah Olak Kemang.Namun sejarah tersebut tidak banyak diketahui oleh masyarakat saat ini. Sumber; Said Salim bin Said Abu Bakar al-Machdor,  Kisah Sejarah Pangeran Wiro Kusumo,Tidak diterbitkan, hal. 7-10. Buku/catatan ini dimiliki oleh salah satu ahli waris sekaligus penjaga Rumah Batu tersebut.
[6] Residen Belanda di Jambi secara lengkap dari tahun 1906-1945 adalah 1. O.L. Helfrich (1906-1908) 2. A.J.N Engelemberg (1908-1910) 3. Th. A.L. Heyting (1910-1913) 4. AL. Kamerling (1913-1915) 5. H.E.C. Quast (1915-1918) 6. H.L.C Petri (1918-1923) 7. C. Poortman (1923-1925) 8. G.J. Van Dongen (1925-1927) 9. H.E.K Ezerman (1927-1928) 10. J.R.F Verschoor Van Niesse (1928-1931) 11. W.S. Teinbuch (1931-1933) 12. Ph.J. Van der Meulen (1933-1936) 13. M.J. Ruyschaver (1936-1940) 14. Reuvers (1940-1942). Pada tahun 1942-1945 Jepang masuk ke Indonesia termasuk Jambi sehingga berakhirlah masa karesidenan Belanda di Jambi. Sumber; H. Junaidi T. Noor, Op.cit., hal. 225.
[8]     Teuku Muhammad Hasan dilahirkan tanggal 4 April1906 sebagai Teuku Sarong, di Sigli, Aceh. Ayahnya, Teuku Bintara Pineung Ibrahim adalah Ulèë Balang di Pidie (Ulèë Balang adalah bangsawan yang memimpin suatu daerah di Aceh). Ibunya bernama Tjut Manyak. Dia bersekolah di Sekolah Rakyat (Volksschool) di Lampoeh Saka 1914-1917. Pada tahun 1924 bersekolah di sekolah berbahasa BelandaEuropeesche Lagere School (ELS), dilanjutkan ke Koningen Wilhelmina School (KWS) di Batavia (sekarang Jakarta). Kemudian ia masuk Rechtschoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum). Beliau adalah Gubernur Wilayah Sumatera Pertama setelah Indonesia merdeka, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1948 hingga tahun 1949 dalam Kabinet Darurat. Selain itu ia adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasionalIndonesia. Sumber; http://id.wikipedia.org/wiki/Teuku_Muhammad_Hasandiakses pada tanggal 24 Desember 2014.
[9] Residen Jambi pada masa kemerdekaan Indonesia yaitu : 1. Dr. Segaf Yahya (1945) 2. R. Inu Kertapati (1945-1950) 3. Bachsan (1950-1953) 4. Hoesin Puang Limbaro (1953-1954) 5. R. Sudono (1954-1955) 6. Djamin Datuk Bagindo (1954-1957) - Acting Gubernur. Pada tanggal 6 Januari 1957 BKRD menyatakan Karesidenan Jambi menjadi Propinsi. 8 Februari 1957 peresmian propinsi dan kantor gubernur di kediaman Residen oleh Ketua Dewan Banteng. Pembentukan propinsi diperkuat oleh Keputusan Dewan Menteri tanggal 1 Juli 1957, Undang-Undang Nomor 1 /1957 dan Undang-Undang Darurat Nomor 19/1957 dan mengganti Undang-Undang tersebut dengan Undang-Undang Nomor 61/1958. Sumber; H. Junaidi T. Noor, Op.cit., hal. 225-226
[10]Kabupaten-kabupaten tersebut adalah 1) Kabupaten Merangin yang mencakup Kewedanaan Muara Tebo, Muaro Bungo, Bangko dan 2. Kabupaten Batanghari terdiri dari Kewedanaan Muara Tembesi, Jambi Luar Kota, dan Kuala Tungkal.
[11]De facto dalam bahasa Latin adalah ungkapan yang berarti "pada kenyataannya (fakta)" atau "pada praktiknya". Istilah ini biasa digunakan sebagai kebalikan dari de jure (yang berarti "menurut hukum") ketika orang mengacu kepada hal-hal yang berkaitan dengan hukum, pemerintahan, atau hal-hal teknis (seperti misalnya standar), yang ditemukan dalam pengalaman sehari-hari yang diciptakan atau berkembang tanpa atau berlawanan dengan peraturan. Bila orang sedang berbicara tentang suatu situasi hukum, de jure merujuk kepada apa yang dikatakan hukum, sementara de facto merujuk kepada apa yang terjadi pada praktiknya.
[12]Anonim, Sejarah Berdirinya Provinsi Jambi, file dapat di download di link http://jambi.kemenag.go.id/file/dokumen/SejarahBerdirinyaProvinsiJambi.pdf
[13]Junaidi T. Noor, Op.cit., hal. 226.
[14]Asal mulanya Kota Praja Jambi kemudian berganti menjadi Kotamadya/Kodya Jambi dan akhirnya menjadi Kota Jambi sampai sekarang.
[15]Sumatera Tengah adalah sebuah provinsi yang pernah tercatat sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang wilayahnya meliputi Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau pada masa sekarang. Provinsi ini sejak tahun 1957 sudah tidak tercatat sebagai provinsi Indonesia setelah dibubarkan dengan UU Drt No. 19 Tahun 1957 dan dimekarkan menjadi provinsi Sumatera Barat, Riau dan Jambi lewat UU No. 61 Tahun 1958 oleh pemerintahan Soekarno.
[16]http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Jambidiakses pada tanggal 23 Desember 2014
[17]Ibid.
[18]Anonim, Sejarah Terbentuknya FKM-SEKO,diperbanyak oleh Panitia MUBES FKM-JKS Tahun 2007
[19]Kawedanan berasal dari bahasa Sansekerta “Ke-wedana-an” yang berarti wilayah administrasi dibawah kabupaten dan diatas kecamatan yang berlaku pada masa Hindia Belanda dan beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia yang dipakai di beberapa provinsi. Pemimpinnya disebut wedana.
[20]Expose Camat Danau Teluk “Drs. Raden Jufri” Pada Penilaian Camat Teladan 2014
[21]Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Versi Online
[22]Hasan Basri Agus, Pejuang Ulama Ulama Pejuang Negeri Melayu Jambi, (Jambi: Pusat Kajian Pengembangan Sejarah dan Budaya Jambi, 2012), hal. 24-25
[23Dinamakan Olak Kemang karena di daerah ini terdapat pohon kemang yang dibawahnya terdapat arus pusaran air (olak) sungai batanghari.
[24]Dinamakan Tanjung Pasir karena di daerah ini terdapat tanah (ujung) berpasir yang menganjurkesungai batanghari  .
[25]Dinamakan Ulu Gedong karena di daerah ini dijadikan sebagai pangkalan bongkar muat Garam. Adapun sebutan “gedong” berawal dari kata “gudang”.
[26]Dinamakan Tanjung Raden karena di daerah ini terdapat kumpulan keturunan “raden” yang telah ditetapkan tempatnya oleh pihak Belanda. Ada pula yang menyebutkan bahwa sebelum bernama Tanjung Raden kampung tersebut disebut “Tanjung Bungur”.
[27]Dinamakan Pasir Panjang karena di daerah ini terdapat bentangan pasir yang panjang mulai dari perbatasan Kecamatan Jaluko Kabupaten Muaro Jambi sampai ke Olak Kemang. Menurut penuturan A. Mirikh (Lurah Pasir Panjang) dahulu wilayah Tanjung Raden dan Tanjung Pasir merupakan “Kampung Baru” sebab sebelumnya wilayah itu merupakan wilayah Kampung Pasir Panjang. Pemisahaan nama tersebut terjadi ketika Penjajah Belanda pada waktu itu menempatkan dan mengkhususkan lokasinya “dipetak-petakkan” ukuran tanahnya bagi orang-orang keturunan “Raden” dan diberi nama kampung “Tanjung Raden” dan orang-orang keturunan “Kemas” di wilayah “Tanjung Pasir”.
[28]Penguasa Belanda memberikan sebutan “pa-cina-an” karena berawal dari berkembangnya kawasan Pulau Pabe dan sekitarnya yang banyak di huni oleh keturunan Cina dan selanjutnya sisebut Pacinan. Diantara 5 kampung yang tergolong kedalam wilayah pacinan adalah Olak Kemang, Ulu Gedong, Kampung Tengah, Jelmu dan Arab Melayu.
[29]Expose Camat Danau Teluk “Drs. Raden Jufri” Pada Penilaian Camat Teladan 2014
[30]Ada beberapa persepsi tentang namanya, yaitu: 1) Ahmad Ilyas, 2) Ahmad Salim, 3) Ahmad Barus II.
[31]Said Salim bin Said Abu Bakar al-Machdor,  Op.cit. hal. 2-3.
[32]Hasan Basri Agus, Op.cit., hal. 13-15.
[33]Nama lengkapnya Said Husin bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Umar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Alfaqihil Muqaddam bin Muhammad bin Ali Ba’alawi bin Muhammad bin Shohibul Marbat bin Ali al-Khali’ Qosam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa bin Muhammad an-Naqib (ada pula an-Najib) bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far as-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fatimah (istri Ali bin Abi Thalib) binti Rasulullah SAW.  Beliau dimakamkan di pemakaman Ahlul Bait Tahtul Yaman yang dikenal dengan pemakaman “Keramat Tambak”
[34]Pembangunan ini terjadi ketika masih berada dalam kekuasaan Sayid Idrus bin Sayid Hasan Al-Judri yang bergelar “Pangeran Wiro Kusumo”. Salah satu motor penggerak pendirian madrasah-madrasah tersebut adalah menantunya sendiri Said Ali Al-Musawwa (suami dari Syarifah Hazra yang bergelar Tuanku Putri) bersama para ulama lainnya. Sebab beliaulah yang ditugaskan untuk meminta izin kepada Belanda untuk membangun madrasah tersebut.Sumber;Said Salim bin Said Abu Bakar al-Machdor, Op.cit.
[35]Nama lengkapnya Abdul Qodir bin Ibrahim bin H. Abdul Madjid bin H. Muhammad Yusuf bin H. Abid bin Djantan. Lahir di Jambi Seberang (Kampung Tengah) pada hari Kamis 18 Safar 1332 H/ 1914 M. Wafat di Jakarta pada hari Jum’at 6 Jumadil Awal 1391 H/1970 M. Beliau memiliki banyak “karomah” kelebihan sehingga lebih dikenal dengan sebutan “Kyai Qodir Keramat”. Ketika KH. Abdul Qodir Ibrahim berumur 13 Tahun (1927 M) saat masih di kelas IV dan akan naik ke kelas V, Guru beliau menemui mudir madrasah Nurul Iman yaitu KH. Hasan Anang, gurunya meminta agar KH. Abdul Qodir Ibrahim untuk tidak lagi ikut belajar. Karena guru tersebut tidak lagi mampu mengajarnya sebab beliau memiliki ilmu yang lebih tinggi. Setelah hal tersebut maka beliau tidak lagi mengikuti pembelajaran, bahkan menjadi pengajar di kelas IV, V, VI dan VII. Adapun beberapa karomah beliau adalah Tidak basah terkena hujan, berjalan di atas air, memiliki karishma/wibawa tinggi dan kasyaf. Diantara karya-karyanya adalah Kitab Mughnil Awwam (Tauhid dan Akhlak), Kitab Riyadush Shibyan (Nahwu), Kitab Ilmu Falak, Terjemahan Kita I’anatuth Thalibin, Tafsir Jalalain dan Al-Baiquniyah. Sumber; Anonim, Manaqib Syekh Abdul Qodir bin Syekh Ibrahim Al-Jambi, 2013, hal. 6-10.
[36]Ibid., hal. 5
[37]Penulis tidak menemukan referensi secara tepat kapan tanah Melayu Jambi dan kerajaan Melayu Jambi mulai ada. Namun ahli sejarah lebih banyak menggunakan istilah bahwa kerajaan Melayu Jambi mulai dikenal ketika pemerintahan Melayu dipegang oleh Puteri Selaras Pinang Masak sebagai Raja Jambi (1460-1480 M).
[38]Ibid.
[39]Dinamakan Rumah Batu karena menurut penulis, ini merupakan rumah batu pertama yang dibangun di wilayah Seberang Kota Jambi.
[40]Said Idrus menikah dengan Ratumas Maryam anak dari Sulthan Ahmad Nazaruddin.
[41]Anak Said Idrus bin Said Hasan Al Jufri yang bernama Said Muhammad (bergelar Pangeran Suto) menikah dengan Ratumas Maryam Intan dari Sulthan Thaha Saifuddin.
[42]Dinamakan Masjid Batu karena menurut penulis ini merupakan masjid batu pertama yang dibangun di wilayah Seberang Kota Jambi.

Jika ingin melihat buku aslinya silahkan klik disini dan disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar